Beji, Depok – Bulan Ramadhan adalah bulan khusus yang dilipat-gandakan pahala disetiap ibadahnya. Selama Ramadhan Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid dan Mushola (DKM) mengadakan shalat isya dan tarawih berjamaah serta memberikan nasihat-nasihat agama dengan tausyiah kuliah tujuh menit (kultum). Dibawah ini merupakan rangkuman dari beberapa tausyiah di masjid dan mushola, diantaranya:
Pertama, bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah Swt. Dari Aisyah Ra, ia berkata, “Rasulullah Saw apabila memasuki sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh (beribadah) dan mengencangkan ikat sarungnya.” (Muttafaq ‘alaih).
Pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah Saw bangun sepanjang malam, yakni menghidupkan seluruh malamnya dengan ibadah, hal ini merupakan bentuk mendekatkan diri kepada Allah Swt untuk mendapatkan malam lailatul qadar, bulan “Lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3). Dan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda; “Barang siapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari).
Kedua, memberikan manfaat bagi orang lain. Dalam kehidupan ini, ada satu nilai yang seringkali menjadi tolok ukur keberhasilan seseorang, tetapi tidak selalu diakui oleh masyarakat secara luas. Nilai tersebut adalah manfaat yang diberikan kepada orang lain. Seseorang mungkin memiliki kekayaan melimpah, jabatan tinggi, atau popularitas luar biasa, tetapi jika kehadirannya tidak membawa manfaat bagi orang lain, maka semua itu kurang berarti.
Islam sebagai agama yang penuh dengan hikmah dan kebijaksanaan telah menetapkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Hal ini tidak hanya diajarkan dalam nilai-nilai moral umum, tetapi juga ditegaskan dalam berbagai hadits Nabi Muhammad Saw. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).
Hadits diatas sangat jelas menunjukkan bahwa ukuran kebaikan seseorang bukan semata dari ibadah ritualnya, tetapi juga dari dampak positif yang diberikan kepada orang lain. Dalam hadits lain, Abu Hurairah RA meriwayatkan; “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat.” [HR. Muslim].
Ketiga, memberikan keamanan dan kenyamanan bagi orang lain. Dalam menjalani kehidupan tentu yang dicari adalah kenyamanan baik dalam hubungan relationship, pekerjaan, pertemanan atau persaudaraan. Kenyamanan biasanya berisi alasan seseorang bertahan dan hidup bahagia. Semua orang di dunia pasti ingin hidup nyaman. Akan tetapi apa arti nyaman itu sendiri? Setiap orang pasti mempunyai definisi yang berbeda tentang kenyamanan.
Bahagia dan nyaman menjadi dua hal yang perlu diciptakan dalam menjalani kehidupan. Bahagia itu belum tentu nyaman, tetapi nyaman itu sudah pasti bahagia. Kebahagiaan dan kenyamanan itu beda tipis. Kenyamanan bisa berkaitan dengan banyak hal, mulai lingkungan hingga suasana hati. Kenyamanan hati itu bukan tentang materi atau fisik, melainkan masalah perasaan. Nyaman saat berada di samping seseorang, nyaman ketika berbagi cerita, apapun yang dilakukan dengan orang lain, selalu membuat nyaman. Manakala hidup telah merasa nyaman maka seseorang akan merasakan aman dengan diterima apa adanya dalam kondisi apapun dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Allah Swt berfirman; “Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu. (Q.S. An-Naml : 89).
Keempat, tidak menginginkan hak orang lain. Menghormati hak orang lain bukan hanya tentang etika sosial, tetapi juga merupakan perintah Allah Swt, dalam firmannya: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu." (QS. An-Nisa: 29).
Ayat diatas sangat jelas menunjukkan bahwa kita harus menghormati hak orang lain dalam hal harta dan segala bentuk lainnya. Memakan harta orang lain dengan cara yang batil adalah dosa besar yang akan merusak hubungan sosial dan mengundang kemarahan Allah Swt.
Kelima, mempersiapkan diri menghadapi kematian. Kematian adalah sebuah kepastian yang akan menghampiri setiap jiwa yang bernafas. Tiada satu pun makhluk di dunia ini yang bisa lari dari takdir ini, bahkan Nabi Muhammad Saw manusia pilihan Allah Swt juga mengalaminya. Kematian bukan akhir dari segalanya, melainkan gerbang menuju kehidupan abadi di akhirat. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin agar saat ajal menjemput, kita berada dalam keadaan yang diridhai Allah Swt, yaitu husnul khatimah atau akhir yang baik.
Seringkali kesibukan dunia membuat kita lupa akan hakikat kehidupan yang fana ini. Padahal mengingat kematian adalah salah satu cara terbaik untuk meluruskan niat dan memotivasi diri melakukan kebaikan. Rasulullah Saw bersabda: “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (yaitu kematian).” (HR. Tirmidzi). Nasihat ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan diri bahwa waktu hidup di dunia ini terbatas.
Inilah rangkuman 5 Sifat Menjadikan Pribadi Yang Baik, setelah semua ikhtiar dan amalan dilakukan, kita serahkan segala urusan kepada Allah Swt dengan tawakal sepenuhnya. Milikilah husnudzon (prasangka baik) kepada-Nya, bahwa Allah Swt akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya yang beriman dan berusaha. Insya Allah. Barokallahu fii kum.
Tulis Komentar